Beranda | Artikel
Penjagaan Terhadap Sunnah yang Menakjubkan - Syaikh Abdussalam asy-Syuwaiir #NasehatUlama
Kamis, 10 Desember 2020

Perkara penjagaan terhadap sunah itu sangat mengagumkan dan Allah ‘azza wa jalla telah memilih orang-orang untuk menjaga sunah dengan cara membuat orang-orang tersebut beramal dalam ketaatan kepada-Nya subhanahu wa ta’ala, sebagaimana yang telah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan:

“Barang siapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan, Allah akan buat dia beramal dalam ketaatan kepada-Nya.” (HR. Tirmizi)

Allah ‘azza wa jalla telah memilih sekelompok orang, yang mana Allah telah tundukkan mereka untuk mengabdi kepada sunah dan berkhidmat untuk al-Qur’an untuk sebuah tujuan yang Allah ‘azza wa jalla kehendaki.

Oleh sebab itu, para ulama berkata, mereka bercerita dalam banyak kisah bahwa ada seorang penulis, dan disebut nama lengkap orang ini, disebutkan oleh al-Khatib al-Baghdadi dalam kitab at-Tarikh.

Orang tersebut berkata, “Aku dulu seorang Yahudi yang berjualan di pasar kota Baghdad, aku menulis, terlintas dalam benakku, ‘Kenapa aku tidak menulis salinan Taurat dan aku ubah dan aku tambah isinya?`”

Dia bercerita, “Aku menulis salinan Taurat di pasar kota Baghdad kemudian aku tambahi sedikit isinya.”

Dia berkata, “Kemudian aku keluar dari pasar dan salinan itu telah terjual namun tidak ada seorangpun yang membicarakannya.”

Dia bercerita, “Kemudian setelah beberapa bulan, aku menulis salinan lain, yaitu Injil, dan aku jual di pasar kota Baghdad kemudian terjual namun tidak ada seorangpun yang membicarakannya.”

Dia berkata, “Kemudian setelah beberapa bulan, aku menulis salinan al-Qur’an dan aku jual di pasar kota Baghdad.” Demikian pengakuan orang tersebut sebagaimana dinukil oleh al-Khatib secara utuh pengakuan tersebut.

Dia berkata, “Dan tidaklah aku keluar dari pasar kota Baghdad kecuali orang-orang yang berada di pasar semuanya membicarakan tentang dijualnya salinan al-Quran di pasar hari ini yang terdapat kesalahan di dalamnya.”

Maka Allah ‘azza wa jalla sendiri yang menjaga al-Qur’an dan sunah juga dijaga seperti itu pula.

Terkisah, ada seorang laki-laki yang berdusta atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di masa khilafah Bani Abbasiyah.

Ketika khalifah ingin menghukum dia, orang itu tertawa dan berkata, “Hukum aku sesuka Anda tapi aku sudah berdusta atas nama Nabi kalian dalam banyak hadis.”

Maka khalifah tertawa dan berkata, “Anda tidak ada apa-apanya dibandingkan para Shayyarifah, mereka adalah orang-orang yang bisa membedakan mana hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mana yang bukan.”

Para ahli hadis dan ulama zaman dahulu, salah seorang di antara mereka akan melakukan perjalanan yang panjang demi mencari satu hadis saja.

Syu’bah, Syu’bah bin Hajjaj al-Kufi berpindah-pindah mengelilingi lima kota untuk mendapatkan satu hadis saja.

Dia mendengar hadis dari perawi pertama dan dia berkata, “Hadis ini, Fulan yang telah mengabarkan kepadaku.” Maka dia menemui perawi kedua tersebut, kemudian menemui perawi ketiga, keempat dan kelima

sehingga dia mendapatkan ketinggian sanad dan juga memastikan kebenaran redaksi hadis.

Ini hanya satu contoh dan masih ada puluhan contoh lainnya, maka para Shayyarifah ini sangat mengagumkan, dan keajaiban besar dalam menjaga sunah ini masih ada.

Aku ceritakan, menukil perkataan Doktor Mahmud at-Thanahi, salah seorang pakar bahasa dari Mesir yang hidup pada masa yang belum lama ini bahwa beliau berkata,

“Aku berpikir tentang para ulama pakar manuskrip yang ahli dalam bidang ini pada masa yang telah lalu.”

Dia berkata, “Aku berpikir tentang para peneliti zaman dahulu; mereka tidak memiliki harta namun sebaliknya mengorbankan banyak harta untuk melakukan penelitian,

mengorbankan kedua matanya, mengeluarkan segala kemampuannya, melakukan perjalanan jauh, mendatangi manuskripnya dan menyalinnya, menelitinya, membandingkan manuskrip-manuskrip yang ada,
hanya untuk mendapatkan sejumlah hadis sebanyak dua atau tiga lembar yang tidak berisi hadis kecuali tiga atau empat hadis saja.

Mengeluarkan banyak harta dan tidak dapat untung karena itu bukan profesi mereka, sebelum adanya profesi akademisi (di universitas)

Itu bukan pekerjaanya dan dia tidak dapat untung, namun dia berkata, “Aku tidak mengetahui apa yang mendorong dia melakukan itu kecuali bahwa Allah ‘azza wa jalla, Dia-lah yang telah menundukkan dia untuk menjaga agama ini.”

====

حِفْظُ السُّنَّةِ أَمْرُهَا عَجِيبٌ جِدًّا وَقَدْ جَعَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لِحِفْظِ السُّنَّةِ رِجَالًا

لِكَيْ يَسْتَعْمِلَ هَؤُلَاءِ الرِّجَالَ فِي طَاعَتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يَسْتَعْمِلْهُ فِي طَاعَتِهِ
أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ

فَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ يُسَخِّرُ أَقْوَامًا هَؤُلَاءِ الْأَقْوَامُ مُسَخَّرُونَ لِخِدْمَةِ السُّنَّةِ وَلِخِدْمَةِ الْقُرْآنِ لِأَمْرٍ أَرَادَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ

وَلِذَلِكَ يَقُولُونَ ذَكَرُوا فِي الْقَصَصِ أَنَّ رَجُلاً أَلَّفَ وَذُكِرَ اسْمُهُ بِعَيْنِهِ ذَكَرَهُ الْخَطِيبُ الْبَغْدَادِيُّ فِي التَّارِيخِ

قَالَ كُنْتُ يَهُودِيًّا أَبِيْعُ فِي سُوقِ بَغْدَاد فَكَتَبْتُ فَجَاءَتْنِي فِكْرَةٌ لِمَا لَا أَكْتُبُ نُسْخَةً مِنَ التَّوْرَاةِ وَأُغَيِّرُ فِيهَا وَأَزِيْدُ؟

قَالَ فَكَتَبْتُ نُسْخَةً مِنَ التَّوْرَاةِ فِي سُوقِ بَغْدَاد وَزِدْتُ فِيهَا قَلِيلًا

قَالَ ثُمَّ خَرَجْتُ مِنَ السُّوقِ وَبِيعَتْ النُّسْخَةُ وَمَا تَكَلَّمَ أَحَدٌ

قَالَ ثُمَّ بَعْدَ بِضْعَةِ أَشْهُرٍ كَتَبْتُ نُسْخَةً أُخْرَى مِنَ الْإِنْجِيلِ وَبِعْتُهَا فِي سُوقِ بَغْدَاد فَبِيعَتْ وَمَا تَكَلَّمَ أَحَدٌ

قَالَ ثُمَّ بَعْدَ بِضْعَةِ أَشْهُرٍ كَتَبْتُ نُسْخَةً مِنَ الْقُرْآنِ وَبِعْتُهَا فِي سُوقِ بَغْدَاد يَقُولُ ذَلِكَ الرَّجُلُ وَنَقَلَهُ عَنْهُ الْخَطِيبُ بِعَيْنِهِ

قَالَ فَمَا خَرَجْتُ مِنْ سُوقِ بَغْدَاد إِلَّا وَاَهْلُ السُّوقِ كُلُّهُمْ يَتَحَدَّثُونَ بِيعَ اليَوْم فِي سُوقِ بَغْدَادِ نُسْخَةٌ مِنَ الْقُرْآنِ فِيهَا سَقْطٌ

فَاللهَ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ الَّذِي حَفِظَ الْقُرْآنَ وَحَفِظَ السُّنَّةَ مِثْلَهُ

جَاءَ أَنَّ رَجُلًا كَانَ يَكْذِبُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِي عَهْدِ خُلَفَاءِ بَنِي الْعَبَّاسِ

فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يُعَاقِبَهُ الْخَلِيفَةُ تَبَسَّمَ قَالَ عَاقِبْنِي كَمَا تَشَاءُ وَ لَكِنِّي قَدْ كَذَبْتُ عَلَى نَبِيِّكُمْ فِي أَحَادِيثَ كَثِيرَةٍ

فَضَحِكَ الْخَلِيفَةُ وَقَالَ أَيْنَ أَنْتَ عَنْ… مِنَ الصَّيَارِفَةِ الَّذِينَ يَسْتَطِيعُونَ أَنْ يُمَيِّزُوا أَحَادِيثَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ مِنْ غَيْرِهَا

كَانَ… كَانَ أُولَئِكَ طَبَقَاتُ الْحَديثِ وَالْعُلَمَاءُ قَدِيمًا أحَدُهُمْ يَرْحَلُ الرِّحْلَةَ الطَّوِيلَةَ لِأَجْلِ حَدِيثٍ

شُعْبَة تَنَقَّلَ شُعْبَةُ بْنُ الْحَجَّاجِ الْكُوفِيّ تَنَقَّلَ بَيْنَ خَمْسَةِ مُدُنٍ لِأَجْلِ حَدِيثٍ وَاحِدٍ

سَمِعَهُ مِنَ الْأَوَّلِ فَقَالَ رَوَاهُ… حَدَّثَنِي عَنْ فُلَانٍ فَانْتَقَلَ إِلَى الثَانِي ثُمَّ فَانْتَقَلَ إِلَى الثَّالِثِ ثُمَّ الرَّابِعِ ثُمَّ الخَامِسِ

حَتَّى يَطْلُبَ عُلُوَّ الْإِسْنَادِ وَيَتَأَكَّدُ مِنَ اللَّفْظِ

هَذَا مِثَالٌ وَالْأَمْثِلَةُ بِالْعَشَرَاتِ فَالصَّيَارِفَةُ عَجِيبٌ جِدًّا

وَمَا زَالَ هَذَا الْإِعْجَازُ العَامُّ فِي الْحِفْظِ مَوْجُودٌ

أَذْكُرُ نَقْلًا عَنِ الدُّكْتورِ مَحْمُودِ الطَّنَاحِيِّ أَحَدِ عُلَمَاءِ اللُّغَةِ الْمِصْرِيِّينَ الْقَارِبِينَ زَمَانًا يَقُولُ

أَنَا أَتَفَكَّرُ- هُمْ عُلَمَاءُ الْمَخْطُوطَاتِ الْمُتَمَيِّزِينَ
هَذَا هُوَ الْمَاضِي

يَقُولُ أَنَا أَتَفَكَّرُ فِي البَاحِثِينَ بَاحِثٌ فَقِيرٌ يَخْسُرُ مِنَ الْأَمْوَالِ الشَّيْءَ الْكَثِيرَ

يُذْهِبُ عَيْنَيْهِ يُذْهِبُ جُهْدَهُ وَيُسَافِرُ ثُمَّ يَأْتِي لِهَذِهِ الْمَخْطُوطَاتِ وَيَنْسَخُ وَيُدَقِّقُ وَيُقَابِلُ النُّسَخَ

لِكَيْ يُخْرِجَ جُزْءً حَدِيثِيًّا فِي صَفْحَتَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةِ لَا يَحْوِي إِلَّا ثَلَاثَةَ أَحَادِيثَ أَوْ أَرْبَعَةَ

يَخْسَرُ الْمَالَ وَلَا يَرْبَحُ لَيْسَ وَظِيفَةً لَهُ قَبْلَ أَنْ تَأْتِيَ الْوَظَائِفُ الْجَامِعِيَّةُ

لَيْسَتْ وَظِيفَةً لَهُ وَلَا رِبْحَ وَلَكِنْ يَقُولُ لَا لَا أَجِدُ لَهُ بَاعِثًا إِلَّا أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ الَّذِي سَخَّرَهُ بِحِفْظِ هَذَا الدِّينِ

 


Artikel asli: https://nasehat.net/penjagaan-terhadap-sunnah-yang-menakjubkan-syaikh-abdussalam-asy-syuwaiir-nasehatulama/